Selasa, 27 Desember 2016

Laporan Audit Manajemen PT. Serat Sutra

“Keterlambatan Produksi di Pabrik Tekstil”
PT. SERAT SUTRA

Medan, 1 Juni 2013-04-07

No                   : 013/KAP/IV/2013
Lampiran         : 4 eksemplar
Perihal             : Laporan Hasil Audit Manajemen

Kepada
Yth, Direktur PT. Serat Sutra
Di Medan

Kami telah melakukan audit atas Keterlambatan Produksi di Pabrik Tekstil PT. SeratSutra untuk periode 2011/2012. Audit kami tidak dimaksudkan untuk memberikanpendapat atas kewajaran laporan keuangan perusahaan dan oleh karenanya kami tidakmemberikan pendapat atas laporan keuangan tersebut. Audit kami hanya mencakup bidangKeterlambatan Produksi yang terjadi dalam perusahaan. Audit tersebut dimaksudkan untukmenilai ekonomisasi (kehematan), efisiensi (daya guna), dan efektivitas (hasil guna). Auditatas Keterlambatan Produksi yang dilakukan diharapkan dapat memberikan saranperbaikan atas keterlambatan sistem produksi yang mengakibatkan keterlambatanpengiriman barang pada pelanggan sehingga diharapkan dimasa yang akan datang dapatdicapai perbaikan atas kekurangan tersebut dan perusahaan dapat beroperasi dengan lebihekonomis, efisien dan efektif dalam mencapai tujuannya.
Hasil audit kami sajikan dalam bentuk laporan audit yang meliputi:
Bab I   : Informasi Latar Belakang
Bab II : Kesimpulan Audit yang Didukung dengan Temuan Audit
Bab III            : Rekomendasi
Bab IV            : Ruang Lingkup Audit
Dalam melakukan audit kami telah memperoleh banyak bantuan,dukungan, dankerjasama dari berbagai pihak baik jajaran direksi maupun staf yang berhubungan denganpelaksanaan audit ini. Untuk itu kami mengucapkan terima kasih atas kerjasama yang telahterjalin dengan baik ini.

Kantor Akuntan Publik &
Management                                                                           Consultant Rawiatmaja
Tn. Pram Sanjaya dan Rekan













Bab I
Informasi Latar Belakang
PT. Serat Sutra (selanjutnya disebut “perusahaan”) berlokasi di Jl. CR No. 7 Medan, didirikantanggal 13 April 1995 oleh para pendiri yang terdiri atas:
1. Ny. Shri Utami
2. Tn. Hendro Sukantja
3. Ny. Trini Ray
PT. Serat Sutra bergerak dibidang produksi industri tekstil. Tujuan produksi adalah untukmemenuhi kebutuhan pasar dan hanya sebagian kecil memenuhi kebutuhan persediaan.Perusahaan menetapkan kebijakan persediaan yang sangat minim untuk menjaga stabilitaskeuangannya.Perusahaan menghasilkan beberapa jenis kain dengan bahan sadar dan merk yang berbeda.Bahan baku sebagian masih merupakan bahan impor terutama yang tidak tersdia cukupdalam negeri.Sebanyak 60% dari produk yang dihasilkan terutama yang berbahan dasar sutra adalah untuktujuan ekspor yang merupakan produk pesanan dengan waktu pengiriman rata-rata 7 haridari pesanan diterima dan sisanya untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri.Perusahaan menggunakan mesin otomatis berteknologi tinggi dengan kapasitas produksi300.000 meter per hari untuk kain dengan bahan dasar sutra dan 4.750 meter kain yang tidakberbahan dasar sutra. Dari kapasitas produksi yang dimiliki perusahaan beroperasi sebesar85% dari kapasitas penuh.Produksi disusun berdasarkan batch-batch yang lebih mengutamakan optimalisasi pengolahanbahan yang tersedia.
Susunan direksi perusahaan adalah sebagai berikut:
·         Direktur Utama: Ny. Shri Utami
·         Direktur Akuntansi dan Keuangan: Ny. Trini Ray
·         Direktur Pemasaran: Tn. Hendro Sukantja
Sedangkan tujuan dilakukannya audit adalah untuk:
1.      Menilai kinerja proses produksi dan operasi dalam menghasilkan barang pesanan
2.      Menilai ekonomisasi, efisiensi, dan efektivitas proses produksi dan operasi
3.      Memberikan berbagai saran dan perbaikan atas kelemahan dalam keterlambatan pengiriman barang pesanan kepada pelanggan












Bab II
Kesimpulan Audit
Berdasarkan temuan (bukti) yang kami peroleh selama audit yang kami lakukan, kami dapatmenyimpulkan sebagai berikut:
Kondisi:
1.      Perencanaan kebutuhan bahan baku perusahaan (terutama untuk produk berbahan dasar sutrayang masih diimpor) sering tidak tepat, sehingga kedatangan bahan baku sering terlambat.Dari catatan penerimaan bahan baku 2006 rata-rata terjadi kekurangan bahan baku sebanyak15% dari kebutuhan produksi, sehingga proses produksi hanya mampu mencapai kuantitas90% dari produk yang dibutuhkan untuk memenuhi pesanan pelanggan sesuai jadwalpengiriman yang ditetapkan.
2.      Karena proses produksi harus terus berjalan, supervisor memerintahkan untuk memproduksiterlebih dahulu produk yang bahan bakunya tersedia di lokasi pabrik, walaupun belumwaktunya diproses, yang menyebabkan terjadinya penumpukan persediaan rata-rata sampai15% untuk produk nonsutra.
3.      Jadwal pemeliharaan mesin tidak selalu tepat dengan jadwal penggunaannya, sehingga padasaat beberapa komponen mesin dibutuhkan sering belum siap karena masih diperbaiki, yangberakibat terjadinya waktu tunggu rata-rata 1 jam setiap hari.
4.      Jadwal produksi tidak disesuaikan dengan terjadinya pemesanan dari pelanggan yang sifatnyamendadak, sehingga belum termasuk dalam jadwal produksi yang telah ditetapkan, yangmenyebabkan tertundanya pengiriman barang yang terjadwal rata-rata 2 hari untuk setiappesanan.
5.      Jadwal penerimaan bahan baku dan perbaikan fasilitas produksi tidak disesuaikan denganterjadinya perubahan pesanan dari pelanggan, yang menyebabkan terhambatnya prosesproduksi rata-rata 18 jam dalam seminggu.
Kriteria:
1.      Jadwal produksi disusun berdasarkan rencana penjualan, yang secara ketat menghubungkanrencana pengiriman barang dengan jadwal produksi setiap jenis produk.
2.      Jadwal produksi harus mampu meminimumkan :
a.       Biaya persediaan, dimana persediaan maksimum 5% dari produksi setiap bulan untuksetiap jenis barang,
b.      Biaya penyetelan (setup) mesin,
c.       Upah lembur, dan
d.      Pengangguran sumber daya.
3.      Jadwal produksi harus terintegrasi dengan :
a.       Jadwal penerimaan bahan baku; bahan baku sudah tersedia dan siap dilokasi pabrik 6 jamsebelum proses produksi dimulai.
b.      Pemeliharaan fasilitas produksi; mesin selalu dalam keadaan siap untuk dioperasikan.
c.       Pengiriman barang; barang jadi dikirim paling lambat 7 hari kerja sejak pesanan diterima.
4.      Jadwal produksi harus mampu mengoptimalkan tingkat penggunaan kapasitas produksi.
5.      Jadwal produksi harus selaras dengan jadwal pada fungsi-fungsi yang lain
6.      Perusahaan harus memiliki pedoman tertulis tentang perubahan jadwal produksi yangdiakibatkan oleh adanya tambahan (perubahan) pesanan pelanggan, agar tidak mengganggurencana produksi dan pengiriman yang telah terjadwal.


Penyebab:
1.      Beberapa kali terjadi keterlambatan pemenuhan pesanan
2.      Saat beberapa komponen mesin dibutuhkan dalam proses produksi sering belum siap karenamasih diperbaiki
3.      Perusahaan tidak (belum) memiliki pedoman tertulis sebagai dasar untuk melakukanperubahan jadwal produksi jika terjadi tambahan (perubahan) permintaan dari pelanggan.
4.      Tidak ada mekanisme penyesuaian (cross check) program antara bagian produksi, pembelian bahan baku dan pemeliharaan fasilitas produksi untuk mencegah terjadinya keterlambatan produksi.

Akibat:
1.      Laba menurun selama 2 tahun terakhir secara signifikan
2.      Pengiriman barang yang terjadwal tertunda rata-rata 2 hari untuk setiap pesanan
3.      Proses produksi terhambat rata-rata 18 jam dalam 1 minggu
4.      Terjadi pembatalan pesanan dan beberapa pelanggan dikawasan Timur Tengah menundapembayaran sebagai jaminan bahwa perusahaan akan memenuhi pesanan berikutnya.
5.      Proses produksi hanya mampu mencapai kuantitas 90% dari produk yang dibutuhkan untukmemenuhi pesanan pelanggan sesuai dengan jadwal pesanan yang telah ditetapkan.
6.      Pasar dalam negeri mengalami penurunan sebesar 7,5% dari volume penjualan tahun laluyang mencapai 525 miliar.

Pejabat yang bertanggung jawab:
Direktur Utama dan Manajer Produksi













Bab III
Rekomendasi

Hasil audit yang dilakukan menemukan beberapa kelemahan yang harus menjadi perhatianmanajemen dimasa yang akan datang. Kelemahan ini dapat dikelompokkan menjadi tiga,
yaitu:
1.      Kelemahan yang terjadi pada perubahan penjadwalan produksi yang tidakmemiliki pedoman tertulis sebagai dasar untuk melakukan perubahan jadwal jikaada tambahan (perubahan) pesanan dari pelanggan
2.      Kelemahan yang terjadi pada bagian produksi, pembelian bahan baku, danpemeliharaan fasilitas yang tidak melakukan mekanisme penyesuaian program
3.      Kelemahan yang terjadi pada jadwal pemeliharaan mesin yang tidak selalu tepatdengan jadwal penggunaannya
Atas keseluruhan kelemahan yang terjadi, maka diberikan rekomendasi sebagai koreksiatau langkah perbaikan yang bisa diambil manajemen untuk memperbaiki kelemahantersebut.

Rekomendasi:
1.       Perusahaan harus memiliki pedoman tertulis tentang perubahan jadwal produksi yang diakibatkan oleh adanya tambahan (perubahan) pesanan pelanggan, agar tidak mengganggurencana produksi dan pengiriman yang telah terjadwal.
2.      Perusahaan harus membuat jadwal produksi yang disusun berdasarkan rencana penjualan,yang secara ketat menghubungkan rencana pengiriman barang dengan jadwal produksi setiapjenis produk.
3.      Perusahaan harus membuat mekanisme penyesuaian (cross check)program antara bagianproduksi, pembelian bahan baku dan pemeliharaan fasilitas produksi untuk mencegahterjadinya keterlambatan produksi.
4.      Perusahaan harus membuat jadwal pemeliharaan mesin yang tepat dengan jadwalpenggunaannya
Keputusan untuk melakukan perbaikan atas kelemahan ini sepenuhnya ada padamanajemen, tetapi jika kelemahan ini tidak segera diperbaiki kami mengkhawatirkan terjadiakibat yang lebih buruk pada Keterlambatan Produksi.



















Bab IV
Ruang Lingkup Audit

Sesuai dengan penugasan yang kami terima, audit yang kami lakukan hanya meliputi masalahKeterlambatan Produksi PT. Serat Sutra untuk periode tahun 2011/2012. Audit kamimencakup penilaian atas kecukupan sistem pengendalian manajemen proses produksi,personalia yang bertugas dalam proses produksi, dan aktivitas proses produksi yangdilaksanakan.






















DAFTAR RINGKASAN TEMUAN AUDIT
Nama Perusahaan  : PT SERAT SUTRA
Daftar                        : Temuan dan Rekomendasi
Periode Audit :

No
Kondisi
Kriteria
Penyebab
Akibat
1.       
Dari catatan penerimaan bahan tahun 2006 rata-rata terjadi kekurangan bahan baku sebanyak 15% dari kebutuhan produksi,
Jadwal produksi harus terintegrasi dengan
a.       Jadwal penerimaan bahan baku; bahan bakusudah tersedia dan siap di lokasi pabrik 6 jamsebelum proses produksi dimulai.
b.        Pemeliharaan fasilitas produksi; mesin selaludalam keadaan siap untuk dioperasikan.
c.        Pengiriman barang; barang jadi dikirim palinglambat 7 hari kerja sejak pesanan diterima.
Perencanaan kebutuhan bahan baku perusahaan (teutama untuk produk berbahan dasar sutra yang masih diimpor) sering tidak tepat, sehingga kedatangan bahan baku sering terlambat.
Karena keterlambatan pengiriman bahan baku, proses produksi hanya mampu mencapai kuantitas 90% dari produk yang dibutuhkan untuk memenuhi pesanan pelanggan sesuai dengan jadwal pengiriman yang telah ditetapkan.
2.       
Produksi tetap dilakukan walaupun belum waktunya untuk diproses.
Jadwal produksi harus mampu meminimumkan:
a.       Biaya persediaan, di mana persediaan maksimum5% dari produksi setiap bulan untuk setiap jenisbarang,
b.       Biaya penyetelan (setup) mesin,
c.       Upah lembur, dan
d.      Pengangguran sumber daya.
Karena proses produksi harus berjalan terus, supervisor memerintahkan untuk memproduksi terlebih dahulu produk yang bahan bakunya tersedia di lokasi pabrik, walaupun belum waktunya diproses, yang menyebabkan terjadinya penumpukan persediaan rata-rata sampai 15% untuk produk nonsutra.

Terjadi penumpukan persediaan rata-rata sampai 15% untuk produk nonsutra.
3.       
Perusahaan sulit memenuhi
pesanan yang mendadak dari pelanggan
Jadwal produksi harus mampu mengoptimalkan tingkat penggunaan kapasitas produksi.
Jadwal produksi tidak disesuaikan dengan terjadinya pemesanan dari pelanggan yang sifatnya mendadak, sehingga belum termasuk dalam jadwal produksi yang telah ditetapkan.
Pesanan pelanggan yang mendadak,menyebabkan tertundanyapengiriman barang yang terjadwalrata-rata 2 hari untuk setiap pesanan.
4.       
Pada saat beberapa komponen mesin dibutuhkan sering belum siap karena masih diperbaiki
Jadwal produksi harus selaras dengan jadwal pada fungsi-fungsi yang lain.
pemeliharaan mesin tidak selalu tepat dengan jadwal penggunaannya.
Terjadinya waktu tunggu rata-rata 1 jam dalam setiap hari.
5.       
Perusahaan sulit memenuhi
pesanan pelanggan yang mengalami tambahan
(perubahan)
Perusahaan harus memiliki pedoman tertulis tentang perubahan jadwal produksi yang diakibatkan oleh adanya tambahan (perubahan) pesanan pelanggan, agar tidak mengganggu rencana produksi dan pengiriman yang telah terjadwal.
Jadwal penerimaan bahan baku dan perbaikan fasilitas produksi tidak disesuaikan dengan terjadinya perubahan pesanan dari pelanggan.
Jika terjadi perubahan pesanan dari pelanggan, proses produksi terhambat rata-rata 18 jam dalam 1 minggu.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar