Minggu, 04 Desember 2016

Manajemen Audit Kelompok 02

MANAJEMEN AUDIT
KELOMPOK 02

AYU SRI RAHAYU                                    13.06.1.0033
MELY CHAERUL AMALIYAH               13.06.1.0009
--------------------------------------------------------------------------------------------------------
Medan, 8 April 2013-04-07

No.                  : 013/KAP/IV/2013
Lampiran         : 4 eksemplar
Perihal             : Laporan Hasil Audit Manajemen

Kepada
Yth, Diektur PT. Indojewel
Di Medan

            Kami telah melakukan audit atas Program Pelatihan Karyawan pada PT. Indojewel untuk periode 2007/2008. Audit kami tidak dimaksudkan untuk memberikan pendapat atas kewajaran laporan keuangan perusahaan dan oleh karenanya kami tidak memberikan pendapat atas dimaksudkan untuk menilai ekonomisasi (kehematan), efisiensi (daya guna), dan efektivitas (hasil guna). Program Pelatihan Karyawan yang dilakukan dan memberikan saran perbaikan atas kelemahan keterampilan karyawan dalam mengoperasikan mesin baru yang ditemukan selama audit, sehingga diharapkan dimasa yang akan datang dapat dicapai perbaikan atas kekurangan tersebut dan perusahaan dapat beroperasi dengan lebih ekonomis, efisien dan efektif dalam mencapai tujuannya.
            Hasil audit kami sajikan dalam bentuk laporan audit yang meliputi:
Bab I               : Informasi Latar Belakang
Bab II              : Kesimpulan Audit yang didukung dengan Temuan Audit
Bab III                        : Rekomendasi
Bab IV                        : Ruang Lingkup Audit
            Dalam melakukan audit kami telah memperoleh banyak bantuan, dukungan, dan kerjasama dari berbagai pihak baik jajaran direksi maupun staf yang berhubungan dengan pelaksanaan audit ini. Untuk itu kami mengucapkan terima kasih atas kerjasama yang telah terjalin dengan baik ini.

Kantor Akuntan Publik
Kris Palguna dan Rekan
BAB I
Informasi Latar Belakang

            PT. Indojewe; (selanjutnya disebut “perusahaan”) berlokasi di jl. CR No. 7 medan, didirikan tanggal 13 April 1990 oleh para pendiri yang terdiri atas:
1.    Dr. Kevin Suparno
2.    Dr. Cecep Mulyadi
3.    Sandra Gultom
4.    Dr. Steve Handayana
PT. Indojewel bergerak dibidang produksi perhiasan berbahan dasar mutiara dan emas. Mutiara yang digunakan adalah hasil pembudidayaan sendiri yang terintegrasi dalam rencana bisnis perusahaan, sedangkan emas diperoleh dari pasar dalam negeri.
Perusahaan mempekerjakan 1.500 karyawan tetap dan sekitar 750 karyawan kontrak yang dipekerjakan terutama sebagai staf produksi di divisi budidaya mutiara dan cleaning service diseluruh divisi perusahaan dengan penghasilan rata-rata sebersar 250% dari UMKyang ditetapkan pemerintah.
Perusahaan menerapkan teknologimaju dalam produksi perhiasan dengan investasi sebesar Rp.1,75 triliun untuk membeli peranti keras dan Rp.500 miliar untuk membeli peranti lunak termasuk sistem informasi yangmengintegraasikan seluruh divisi kedalam satu rangkaian operasi dan sistem pelaporan.
Perusahaan karyawan yang dilakukan PT.Indojewel bersifat situasional, sesuai dengan permintaan manajer lini dan sesuai dengan anggaran yang tersedia. Susunan direksi perusahaan adalah sebagai berikut:
Direktur Utama                                   : Dr. Kevin Suparno
Direktur Akuntansi dan Keuangan     : Dr. Cecep Mulyadi
Direktur Pemasaran                             : Dr. Sandra Gultom
Direktur Produksi                                : Dr. Steve Handayana
Sedangkan tujuan dilakukannya audit adalah untuk:
1.      Menilai kinerja pelatihan keterampilan karyawan dalam mengoperasikan mesin baru perusahaan.
2.      Menilai ekonomisasi, efisiensi, dan efektivitas program pelatihan karyawan yang dilakukan perusahaan.
3.      Memberikan berbagai saran dan perbaikan atas kelemahan dalam program pelatihan karyawan yang ditemukan.
BAB II
Kesimpulan Audit

            Berdasarkan temuan (bukti) yang kami peroleh selama audit yang kami lakukan, kami dapat menyimulkan sebagai berikut:
Kondisi:
1.      Mesin baru yang digunakan  perusahaan telah dilengkapi manual penggunaanya, tetapi untuk memahami manual tersebut dan mampu menggunakannya sesuai dengan standar manual tersebut perlu dilakukan pelatihan intensif, dengan mempraktikannya dilokasi mesin tersebut dioperasikan. Sementara pelatihan yang dilakukan adalah pelatihan klasikal di kelas untuk memahami petunjuk tersebut. Konfirmasi kepada manajer SDM diperoleh informasi tidak tersedia cukup dana untuk melanjutkan pelatihan sampai pada praktik lapangan.
2.      Perusahaan tidak memiliki rencana pelatihan periodik dan menentukan program pelatihan berdasarkan permintaan manajer lini yang harus terealisasi dalam waktu singkat tanpa melalui suatu identifikasi untuk menentukan pelatihan apa yang sesungguhnya dibutuhkan karyawan.
3.      Perusahaan hanya menganggarkan biaya pelatihan sebesar 0,25% selama satu tahun dari laba bersih setelah pajak tahun sebelumnya. Untuk tahun 2008 biaya pelatihan didasarkan pada laba bersih setelah pajak tahun 2007 yang mencapai sebesar 650,75 miliar.
4.      Terjadi penurunan produk gagal sebesar 18% dibanding sebesar 20% pada tahun lalu (penurunan produk gagal hanya 2% saja).
5.      Tidak ada penilaian keberhasilan pelatihan secara formal sehingga tidak ada dokumen atau catatan yang bisa dipertanggungjawabkan atas penilaian hasil pelatihan yang telah dilakukan.
6.      Dari hasil kuesioner yang disebarkan kepada karyawan yang telah mengikuti pelatihan tahun 2008 diperoleh temuan sebagai berikut:
a.    Sebesar 35% dari peserta menjawab bahwa materi pelatihan sesuai dengan kebutuhannya untuk meningkatkan keterampilan.
b.    Sebesar12,5% peserta menjawab metode pelatihan sesuai dengan materi pelatihan yang diberikan.
c.    Hanya sebesar 35% menjawab keterampilannya meningkat setelah mengikuti pelatihan.
d.   Sebesar 80% peserta menjawab bahwa waktu pelatihan terlalu singkat dan tidak cukup waktu bagi mereka untuk memahami materi yang diberikan dalam pelatihan tersebut.
7.      Sebanyak 40% kegagalan produk terjadi dalam proses produksi, 35% pada proses pengepakan, dan 25% pada proses penggudangan dari keseluruhan biaya kegagalan produk yang terjadi pada tahun 2008 sebesar Rp 825,25 juta.
8.      Pengembalian produk oleh pelanggan yang terjadi selama tahun 2008 sebesar 7,5% dari total penjualan Rp 7,5 triliun.
Kriteria:
1.      Tujuan pelatihan dan pengembangan karyawan harus dirumuskan secara jelas dan disosialisasikan keseluruh manajer lini. Tujuan pelatihan adalah untuk:
a.    Meningkatkan keterampilan karyawan.
b.    Menurunkan kegagalan produk sampai pada tingkat 2,5%.
c.    Menurunkan pemborosan penggunaan sumber daya.
d.   Menurunkan kecelakaan kerja karyawan serta meningkatkan motivasi kerja dan kebanggaan karyawan terhadap pekerjaannya.
e.    Rencana pelatihan dan pengembangan karyawan harus disusun secara periodik bersama dengan penyusunan anggaran perusahaan.
f.     Program pelatihan dirumuskan berdasarkan hasil identifikasi terhadap kebutuhan pelatihan sebelum program ditetapkan. Identifikasi meliputi:
a).  Penentuan jenis dan bentuk keterampilan yang dibutuhkan karyawan sehingga mampu berkontribus imaksimal kepada perusahaan.
b). Melakukan penilaian secara periodik untuk mengidentifikasi topik pelatihan yang tepat.
c).  Melakukan penilaian terhadap pelatihan yang telah dilakukan untuk mendapatkan umpan balik bagi perbaikan pelatihan berikutnya.
d). Melakukan benchmarking pada industri yang sama yang lebih berhasil dalam mengelola program pelatihan dan pengembangan.
2.      Pengelolaan pelatihan karyawan harus didukung anggaran yang memadai.
3.      Laporan biaya kualitas harus terdokumentasi untuk menyediakan informasi sebagai umpan balik dalam meningkatkan kualitas proses dan produk yang dihasilkan.



Penyebab:
1.      Pelatihan yang telah dilakukan adalah pelatihan klasikal di kelas untuk memahami petunjuk (manual), pada hal untuk memahami manual tersebut dan mampu menggunakan sesuai dengan standar manual perlu dilakukan pelatihan intensif dengan mempraktikkannya dilokasi mesin tersebut dioperasikan.
2.      Rencana pelatihan baru dibuat setelah ada bagian yang membutuhkan pelatihan.
3.      Belum  tersedia  suatu  sistem  review  dan  pelaporan  yang  terdokumentasi  tentang  penilaian efektivitas dan efisiensi pelaksanaan pelatihan.
4.      Dana  SDM  tidak  mencukupi  untuk  melanjutkan  pelatihan  karyawan  sampai  pada  praktik lapangan secara intensif terkait dengan adanya mesin baru.
Akibat:
1.      Banyak karyawan menjadi kurang terampil ketika mengoperasikan mesin baru perusahaan.
2.      Tidak ada dokumen/catatan yang bisa dipertanggungjawabkan atas penilaian hasil pelatihan yang telah dilakukan.
3.      Tidak diketahui berapa biaya yang dikeluarkan untuk peningkatan kualitas proses dan produk yang dihasilkan sehingga tidak ada umpan balik dalam peningkatan kualitas produk.
4.      Banyak bahan yang terbuang karena rusak dalam proses.
5.      Banyak tercipta produk yang gagal.
6.      Pesanan dari gerai-gerai yang merupakan ujung tombak penjualan semakin menurun.
7.      Terjadi pemborosan biaya produksi sehingga merugikan perusahaan.

Pejabat yang bertanggung jawab:


Direktur Utama dan Manajer SDM







BAB III
Rekomendasi

            Hasil audit yang dilakukan menemukan beberapa kelemahan yang harus menjadi perhatian manajemen dimasa yang akan datang. Kelemahan ini dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:
1.      Kelemahan yang terjadi pada program perencanaan pelatihan yang tidak terstruktur dan dipersiapkan dengan baik.
2.      Kelemahan yang terjadi pada saat dilakukannya proses pelatihan karyawan atas mesin baru perusahaan.
3.      Kelemahan yang terjadi karena pada saat dilakukannya dana SDM untuk meningkatkan pelatihan kejenjang yang lebih tinggi.
Atas keseluruhan kelemahan yang terjadi, maka diberikan rekomendasi sebagai koreksi atau langkah perbaikan yang bisa diambil manajemen untuk memperbaiki kelemahan tersebut.

Rekomendasi:
1.      Perusahaan harus membuat program perencanaan pelatihan karyawan secara jelas dan terstruktur serta dipersiapkan dengan baik sehingga program pelatihan dapat berjalan dengan maksimal dan karyawan bisa mendapatkan pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan.
2.      Perusahaan  harus  membuat  kebijakan  dalam  hal  penambahan  dana  atau  angggaran  untuk pelatihan intensif dalam mempraktikkan mesin baru perusahaan agar para karyawan dapat lebih terampil mempraktikkan mesin tersebut secara langsung dilapangan.
3.      Perusahaan  harus  melakukan  penilaian  atas  keberhasilan  pelatihan  secara  formal  dan terdokumentasi sebagai pertanggungjawaban atas dilaksanakannya pelatihan sebagai acuan untuk melihat kinerja sejauh mana program pelatihan yang dilakukan.
4.      Manajer SDM harus membuat jadwal program pelatihan karyawan secara jelas khusus serta harus sesuai dengan topik, materi, dan metode pelatihan agar karyawan dapat lebih terampil ketika akan mempraktikkan apa yang telah dilatih.
Keputusan untuk melakukan perbaikan atas kelemahan ini sepenuhnya ada pada manajemen, tetapi jika kelemahan ini tidak segera diperbaiki kami mengkhawatirkan terjadi akibat buruk pada Program Pelatihan Keryawan dimasa yang akan datang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar