MANAJEMEN AUDIT
KELOMPOK 3
ISWAHYUNI PUJANINGSIH 13.06.1.0008
PIPIN HANAPIAH 13.06.1.0014
LAPORAN
AUDIT MANAJEMEN
Surabaya,
01 Januari 2007
No : 024/KAP/IV/2007
Lampiran : 3 eksemplar
Perihal : Laporan Hasil Audit Manajemen
Kepada
Yth.
Direktur Utama PT. Serat Sutra
Di
Surabaya
Kami telah melakukan audit atas
keterlambatan penerimaan barang yang terjadi karena keterlambatan proses
produksi pada PT Serat Sutra untuk periode tahun 2006/2007. Audit kami tidak
dimaksudkan untuk memberikan pendapat atas kewajaran laporan keuangan
perusahaan dan oleh karenanya kami tidak memberikan pendapat atas laporan
keuangan tersebut. Audit kami hanya mencakup bidang Proses Produksi yang
dimiliki (terjadi pada) perusahaan PT Serat Sutra. Audit tersebut dimaksudkan
untuk menilai ekonomisasi (kehematan), efisiensi (daya guna), dan efektivitas
(hasil guna) pelaksanaan produksi. Pengelolaan program proses produksi yang
dilakukan dan memberikan saran perbaikan atas kelemahan pengelolaan program
proses produksi yang ditemukan selama audit. Sehingga diharapkan di masa yang
akan datang dapat dicapai perbaikan atas kekurangan tersebut dan perusahaan
dapat beroperasi dengan lebih ekonomis, efisien, efektif dalam mencapai
tujuannya.
Hasil audit kami sajikan dalam
bentuk laporan audit yang meliputi:
Bab
I : Informasi Latar Belakang
Bab
II : Kesimpulan Audit yang
Didukung dengan Temuan Audit
Bab
III : Rekomendasi
Bab
VI : Ruang Lingkup
Dalam melaksanakan audit kami telah
memperoleh banyak bantuan, dukungan, dan kerja sama dari berbagai pihak bauk
jajaran direksi maupun staf yang berhubungan dengan pelaksanaan audit ini.
Untuk itu kami mengucapkan terimakasih atas kerja sama yang telah terjalin
dengan baik ini.
Kantor Akuntan Publik
Rawiatmaja & Partner
Tn. Pram Sanjaya
BAB
I
INFORMASI
LATAR BELAKANG
Perusahaan
PT. Serat Sutra berlokasi di Jl. Putra Bangsa III Blok E kav 60 Surabaya.
Berdiri pada tanggal 15 September 1990.
PT.
Serat Sutra bergerak dibidang produksi tenun tradisional dengan fasilitas
produksi berupa Alat Tenun Bukan Mesin (ATBN). Mulai tahun 1995 perusahaan ini
secara total meninggalkan ATBN untuk produksi komersialnya dan menggunakan
teknologi modern dengan investasi yang cukup besar.
PT.
Serat Sutra menghasilkan beberapa jenis kain dengan bahan dasar dan merk yang
berbeda. Bahan baku sebagian masih merupakan bahan impor terutama yang tidak
tersedia cukup di dalam negeri.
Perusahaan
menggunakan mesin otomatis berteknologi tinggi dengan kapasitas produksi
300.000 meter per hari untuk kain yang berbahan dasar sutra dan 4.750 meter
untuk kain yang tidak berbahan dasar sutra. Dari kapasitas produksi yang
dimiliki, perusahaan beroperasi sebesar 85% dari kapasitas penuh.
Sebanyak
60% dari produk yang dihasilkan terutama yang berbahan dasar sutra adalah untuk
tujuan ekspor yang merupakan produk pesanan dengan waktu penerimaan rata-rata 7
hari dari pesanan diterima dan sisanya untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam
negeri.
Susunan
direksi perusahaan adalah sebagai berikut:
Direktur utama : Ny. Shri
Utami
Direktur akuntansi dan keuangan : Ny. Trini Rav
Direktur pemasaran : Tn. Hendro
Sukantia
Sedangkan
tujuan dilakukan audit adalah untuk:
1.
Menilai ekonomisasi, efisiensi, dan
efektivitas pengelolaan program proses produksi pada perusahaan agar tidak
terjadi keterlambatan pengiriman barang.
2.
Menilai mencakup prosedur proses
produksi dan kebijakan pengiriman produk.
3.
Memberikan berbagai saran perbaikan atas
kelemahan pengelolaan program proses produksi yang ditemukan.
BAB
II
KESIMPULAN
AUDIT
Berdasarkan
temuan (bukti) yang kami peroleh selama audit yang kami lakukan, kami dapat
menyimpulkan sebagai berikut:
Kondisi:
1.
Dari catatan penerimaan bahan baku tahun
2006 rata-rata terjadi kekurangan bahan baku sebanyak 15% dari kebutuhan
produksi.
2.
Pada saat beberapa komponen mesin
dibutuhkan sering belum siap karena masih diperbaiki.
3.
Jadwal produksi tidak disesuaikan dengan
terjadinya pemesanan dari pelanggan yang sifatnya mendadak. Sehingga belum
termasuk dalam jadwal produksi yang telah ditetapkan.
4.
Jadwal penerimaan bahan baku dan
perbaikan fasilitas produksi tidak disesuaikan dengan terjadinya perubahan pemesanan
dari pelanggan.
5.
Tidak ada mekanisme penyesuaian (cross check) program antara bagian
produksi, pembelian bahan baku, dan pemeliharaan fasilitas produksi.
Kriteria:
1.
Jadwal produksi disusun berdasarkan
rencana penjualan, yang secara ketat menghubungkan rencana pengiriman barang
dengan jadwal produksi setiap jenis produksi.
2.
Jadwal produksi harus mampu
meminimumkan:
a. Biaya
persediaan, dimana persediaan maksimum 5% dari produksi setiap bulan untuk
setiap jenis barang.
b. Biaya
penyetelan (setup) mesin.
c. Pengangguran
sumber daya.
3.
Jadwal produksi harus terintegrasi
dengan:
a. Jadwal
penerimaan bahan baku: bahan baku sudah tersedia dan siap dilokasi pabrik 6 jam
sebelum proses produksi dimulai.
b. Pemeliharaan
fasilitas produksi: mesin selalu dalam keadaan siap untuk dioperasikan.
c. Pengiriman
barang: barang jadi dikirim paling lambat 7 hari kerja seja pesanan diterima.
4.
Jadwal produksi harus mampu
mengoptimalkan tingkat penggunaan kapasitas produksi.
5.
Jadwal produksi harus selaras dengan
jadwal pada fungsi-fungsi yang lain.
6.
Perusahaan harus memiliki pedoman
tertulis tentang perubahan jadwal produksi yang diakibatkan oleh adanya
tambahan (perubahan) pesanan pelanggan, agar tidak mengganggu rencana produksi
dan pengiriman yang telah terjadwal.
Penyebab:
1.
Perencanaan perubahan bahan baku
perusahaan (terutama untuk produk berbahan dasar sutra yang masih diimpor)
sering tidak tepat, sehingga kedatangan bahan baku sering terlambat.
2.
Jadwal pemeliharaan mesin tidak selalu
tepat dengan jadwal penggunaannya.
3.
Perusahaan tidak (belum) memiliki
pedoman tertulis sebagai dasar untuk melakukan perubahan jadwal produksi, jika
terjadi tambahan (perubahan) permintaan dari pelanggan.
4.
Operator mesin dan bagian pemeliharaan
fasilitas produksi dikendalikan oleh kepala bagian yang berbeda.
5.
Karena proses produksi harus berjalan
terus, supervisor memerintahkan untuk memproduksi terlebih dahulu produk yang
bahan bakunya tersedia di lokasi pabrik, walaupun belum waktunya diproses.
Akibat:
1.
Proses produksi hanya mempu mencapai
kuantitas 90% dari produk yang dibutuhkan untuk memenuhi pesanan pelanggan yang
sesuai dengan jadwal pengiriman yang telah ditetapkan.
2.
Terjadinya waktu tunggu untuk aktifitas
produksi rata-rata 1 jam dalam setiap hari.
3.
Tertundanya pengiriman barang yang
terjadwal rata-rata 2 hari untuk setiap pemesanan.
4.
Terhambatnya proses produksi rata-rata
18 jam dalam 1 minggu.
5.
Terjadinya penumpukan persediaan
rata-rata sampai 15% untuk produk nonsutra.
Pejabat yang bertanggungjawab:
Direktur
Utama : Ny. Shri Utami
BAB
III
REKOMENDASI
Hasil
audit yang dilakukan menemukan beberapa kelemahan yang harus menjadi perhatian
manajemen di masa yang akan datang. Kelemahan ini meliputiu:
1.
Keterlambatan pengiriman terjadinya
karena keterlambatan proses produksi.
2.
Kebijakan pengiriman produk terlalu
cepat.
Atas
keseluruhan kelemahan yang terjadi maka, diberikan rekomendasi sebagai koreksi
atau lengkah perbaikan yang bisa diambil manajemen untuk memperbaiki kelemahan
tersebut.
Rekomendasi:
1.
Perusahaan harusnya memiliki pedoman
tertulis sebagai dasar untuk melakukan perubahan jadwal produksi, jika terjadi
tambahan (perubahan) permintaan dari pelanggan.
2.
Perusahaan harusnya mengadakan mekanisme
penyesuaian (cross check) program
antara bagian produksi, pembelian bahan baku, dan pemeliharaan fasilitas
produksi untuk mencegah terjadinya keterlambatan produksi.
3.
Perusahaan harus membuat jadwal produksi
yang terintegritas dengan:
a. Jadwal
penerimaan bahan baku: bahan baku sudah tersedia dan siap dilokasi pabrik 6 jam
sebelum proses produksi dimulai.
b. Pemeliharaan
fasilitas produksi: mesin selalu dalam keadaan siap untuk dioperasikan.
c. Pengiriman
barang: barang jadi dikirim paling lambat 7 hari kerja sejak pesanan diterima.
Keputusan
untuk melakukan perbaikan atas kelemahan ini sepenuhnya ada paada manajemen,
tetapi jika kelemahan ini tidak segera diperbaiki, kami mengkhawatirkan terjadi
akibat yang lebih buruk pada keterampilan karyawan di masa yang akan datang.
BAB
IV
RUANG
LINGKUP AUDIT
Sesuai dengan penugasan yang kami
terima, audit yang kami lakukan hanya meliputi masalah keterlambatan pengiriman
barang yang terjadi karena keterlambatan proses produksi pada PT. Serat Sutra
periode tahun 2006/2007. Audit kami mencakup kebijakan pengiriman barang,
jadwal penerimaan bahan baku, dan jadwal pemelihraan mesin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar