AKUNTANSI A
- Kelompok 7
Fitria’en
Nurokhman 13.06.1.0006
Siti Isolah
Yuniar 13.06.1.0025
Haryadi
Dudiyana 13.06.1.0050
Jawaban
Studi Kasus No. 1 PT. INDOJEWEL
DAFTAR
RINGKASAN TEMUAN AUDIT
|
No
|
Kondisi
|
Kriteria
|
Penyebab
|
Akibat
|
|
1
|
Perusahaan tidak memiliki rencana pelatihan periodik
dan menentukan program pelatihan
|
Rencana pelatihan dan pengembangan karyawan harus
disusun secara periodik bersama dengan penyusunan anggaran perusahaan
|
Rencana pelatihan baru dibuat setelah ada bagian
yang membutuhkan pelatihan
|
Ketidaktuntasan program pengelolaan pelatihan
karyawan hingga tahap akhir yang mengarah pada ketidaksempurnaan keterampilan
dan kemahiran karyawan dalam mengoperasikan mesin baru
|
|
2.
|
Perusahaan hanya menganggarkan biaya pelatihan
sebesar 0,25% selama satu tahun dari laba bersih setelah pajak tahun
sebelumnya
|
Pengelolaan pelatihan karyawan harus didukung
anggaran yang memadai
|
Program
pelatihan disusun berdasarkan permintaan dari departemen yang membutuhkan
pelatihan tersebut dan disesuaikan dengan besarnya anggaran yang disetujui
oleh Direktur Akuntansi dan Keuangan.
|
Ketidaktuntasan
program pengelolaan pelatihan karyawan hingga tahap akhir yang mengarah pada
ketidaksempurnaan keterampilan dan kemahiran karyawan dalam mengoperasikan
mesin baru
|
|
3.
|
Pertanggungjawaban atas Program Pelatihan Karyawan
tidak dapat dilakukan
|
Laporan biaya kualitas harus terdokumentasi untuk
menyediakan informasi sebagai umpan balik dalam meningkatkan kualitas proses
dan produk yang dihasilkan
|
Belum tersedia suatu sistem review dan pelaporan
yang terdokumentasi tentang penilaian efektivitas dan efisiensi pelaksanaan
pelatihan
|
Tidak ada
informasi sebagai umpan balik dalam peningkatkan kualitas produk yang
dihasilkan atas pelatihan keterampilan karyawan
|
|
4.
|
Dana tidak mencukupi untuk melakukan program
Pelatihan Karyawan
|
Pengelolaan pelatihan karyawan harus didukung dengan
anggaran yang memadai
|
Program pelatihan yang dilakukan disesuaikan dengan
besarnya anggaran yang disetujui oleh Direktur Akuntansi dan Keuangan
|
Tidak tersedia cukup dana untuk melanjutkan
pelatihansampai pada praktik pelatihan sehingga pelatihan yang dilakukan
hanya merupakan pelatihan klasikal di kelas
|
|
5.
|
Biaya kegagalan produk yang terjadi pada tahun 2008
Mencapai Rp 825,25 juta.
|
Tujuan pelatihan dan pengembangan karyawan harus
dirumuskan dengan jelas dan disosialisasikan ke seluruh manajer lini untuk
Menurunkan kegagalan produk
|
perusahaan tidak memiliki rencana pelatihan periodik
dan menentukan program pelatihan berdasarkan permintaan manajer lini yang
harus terealisasi dalam waktu singkat tanpa melalui identifikasi untuk
menentukan identifikasi untuk menentukan pelatihan apa yang sesungguhnya
dibutuhkan oleh para karyawan.
|
Banyaknya
produk gagal dalam proses produksi sehingga volume atau output produksi
menjadi lebih kecil yang mengarah pada kenaikan harga pokok produksi tanpa
peningkatan kualitas terhadap produk yang dihasilkan
|
|
6.
|
Pengembalian produk oleh pelanggan yang terjadi
selama tahun 2008 sebesar 7,5%
|
Tujuan pelatihan dan pengembangan karyawan harus
dirumuskan dengan jelas dan disosialisasikan ke seluruh manajer lini untuk
Menurunkan kegagalan produk
|
perusahaan tidak memiliki rencana pelatihan periodik
dan menentukan program pelatihan berdasarkan permintaan manajer lini yang
harus terealisasi dalam waktu singkat tanpa melalui identifikasi untuk
menentukan identifikasi untuk menentukan pelatihan apa yang sesungguhnya
dibutuhkan oleh para karyawan.
|
Menurunnya volume penjualan akibat besarnya
pengembalian produk oleh pelanggan
|
BAB I
INFORMASI
LATAR BELAKANG
PT. Indojewel bergerak di bidang
produksi perhiasan berbahan dasar mutiara dan emas. Mutiara yang digunakan
adalah hasil pembudidayaan sendiri yang terintegrasi dalam rencana bisnis
perusahaan, sedangkan emas diperoleh dari dalam negeri. Desain produk sudah
cukup dikenal di pasar, merupakan hasil pengembangan bagian litbang perusahaan
yang dipimpin oleh tenaga ahli di bidangnya.
Perusahaan mempekerjakan 1.500
karyawan tetap dan sekitar 750 karyawan kontrak yang dipekerjakan terutama
sebagai staf produksi di divisi budidaya mutiara dan cleaning service di
seluruh divisi perusahaan, dengan penghasilan rata-rata sebesar 250% dari UMK
yang ditetapkan pemerintah.
Perusahaan menerapkan teknologi maju
dalam produksi perhiasan dengan investasi sebesar Rp1,75 triliun untuk membeli
peranti keras dan Rp500 miliar untuk membeli peranti
lunak termasuk sistem informasi, yang mengintegrasikan
seluruh divisi ke dalam satu rangkaian operasi dan sistem pelaporan.
Pelatihan karyawan bersifat
situasional, sesuai dengan permintaan manajer lini dan sesuai dengan anggaran
yang tersedia.
Susunan direksi Perusahaan adalah sebagai berikut:
- Direktur
Utama :
Tn. Kevin Suparno
- Direktur
Akuntansi dan Keuangan : Tn. Cecep
Mulyadi
- Direktur
Pemasaran : Nn.
Sandra Gultom
- Direktur
Produksi : Tn.
Steve Handayana
- Manager SDM : Tn. Syam
Nugroho
Sedangkan tujuan dilakukannya audit adalah untuk:
1. Menilai
prosedur Pelatihan Karyawan yang dilakukan Perusahaan
2.
Menilai ekonomisasi, efisiensi dan
efektivitas Pelatihan Karyawan yang telah dilaksanakan.
3. Memberi
berbagai saran atas kelemahan dalam pelaksanaan Pelatihan Karyawan yang
ditemukan
BAB II
KESIMPULAN AUDIT
Berdasarkan temuan (bukti) yang kami
peroleh selama audit yang kami lakukan, kami dapat menyimpulkan sebagai berikut
:
Kondisi:
1.
Mesin baru yang digunakan
perusahaan telah dilengkapi manual penggunaannya, tetapi untuk memahami manual
tersebut dan mampu menggunakannya sesuai dengan standar manual tersebut perlu
dilakukan pelatihan intensif, dengan mempraktikkannya dilokasi mesin tersebut
dioperasikan. Sementara pelatihan yang dilakukan adalah pelatihan klasikal di
kelas untuk memahami petunjuk tersebut. Konfirmasi kepada manajer SDM diperoleh
informasi tidak tersedia cukup dana untuk melanjutkan pelatihan sampai pada
praktik lapangan.
2.
Perusahaan tidak memiliki
rencana pelatihan periodik dan menentukan program pelatihan berdasarkan
permintaan manajer lini yang harus terealisasi dalam waktu singkat tanpa
melalui suatu identifikasi untuk menentukan pelatihan apa yang sesungguhnya
dibutuhkan karyawan.
3.
Perusahaan hanya menganggarkan biaya pelatihan sebesar 0,25% selama satu
tahun dari laba bersih setelah pajak tahun sebelumnya. Untuk tahun 2008 biaya
pelatihan didasarkan pada laba bersih setelah pajak tahun 2007 yang mencapai
sebesar 650,75 miliar.
4.
Tidak ada penilaian
keberhasilan pelatihan secara formal sehingga tidak ada dokumen atau catatan
yang bisa dipertanggungjawabkan atas penilaian hasil pelatihan yang telah
dilakukan.
5.
Dari hasil kuesioner yang
disebarkan kepada karyawan yang telah mengikuti pelatihan tahun 2008 diperoleh
temuan sebagai berikut:
a.
Sebesar 35% dari peserta
menjawab bahwa materi pelatihan sesuai dengan kebutuhannya untuk meningkatkan
keterampilan.
b.
Sebesar 12,5% peserta menjawab
metode pelatihan sesuai dengan materi pelatihan yang diberikan.
c.
Hanya sebesar 35% menjawab keterampilannya meningkat setelah mengikuti
pelatihan.
d.
Sebesar 80% peserta menjawab
bahwa waktu pelatihan terlalu singkat dan tidak cukup waktu bagi mereka untuk
memahami materi yang diberikan dalam pelatihan tersebut.
6.
Sebanyak 40% kegagalan produk
terjadi dalam proses produksi, 35% pada proses pengepakan, dan 25% pada proses
penggudangan dari keseluruhan biaya kegagalan produk yang terjadi pada tahun
2008 sebesar Rp 825,25 juta.
7.
Pengembalian produk oleh
pelanggan yang terjadi selama tahun 2008 sebesar 7,5% dari total penjualan Rp
7,5 triliun.
Kriteria:
1.
Tujuan pelatihan dan
pengembangan karyawan harus dirumuskan dengan jelas dan disosialisasikan ke
seluruh manajer lini. Tujuan pelatihan adalah untuk :
a.
Meningkatkan keterampilan
karyawan.
b.
Menurunkan kegagalan produk
sampai pada tingkat 2,5%.
c.
Menurunkan pemborosan
penggunaan sumber daya.
d.
Menurunkan kecelakaan kerja
karyawan serta meningkatkan motivasi kerja dan kebanggaan karyawan terhadap
pekerjaannya.
2.
Rencana pelatihan dan
pengembangan karyawan harus disusun secara periodik bersama dengan penyusunan
anggaran perusahaan.
3.
Program pelatihan dirumuskan
berdasarkan hasil identifikasi terhadap kebutuhan pelatihan sebelum program
ditetapkan. Identifikasi meliputi :
a. Penentuan jenis dan bentuk keterampilan yang dibutuhkan karyawan sehingga
mampu berkontribusi maksimal kepada
perusahaan.
b. Melakukan penilaian secara periodik untuk mengidentifikasi topik pelatihan
yang tepat.
c. Melakukan penilaian terhadap pelatihan yang telah dilakukan untuk
mendapatkan umpan balik bagi perbaikan pelatihan berikutnya.
d. Melakukan benchmarking pada industri yang sama yang lebih berhasil dalam
mengelola program pelatihan dan pengembangan.
4.
Pengelolaan pelatihan karyawan
harus didukung anggaran yang memadai.
5.
Laporan biaya kualitas harus terdokumentasi
untukk menyediakan informasi sebagai umpan balik dalam meningkatkan kualitas
proses dan produk yang dihasilkan.
Penyebab:
1.
Rencana pelatihan baru dibuat
setelah ada bagian yang membutuhkan pelatihan sehingga diketahui bahwa
perusahaan tidak memiliki rencana pelatihan periodik dan menentukan program
pelatihan berdasarkan permintaan manajer lini yang harus terealisasi dalam
waktu singkat tanpa melalui identifikasi untuk menentukan identifikasi untuk
menentukan pelatihan apa yang sesungguhnya dibutuhkan oleh para karyawan.
2.
Program pelatihan disusun berdasarkan
permintaan dari departemen yang membutuhkan pelatihan tersebut dan disesuaikan
dengan besarnya anggaran yang disetujui oleh Direktur Akuntansi dan Keuangan.
3.
Belum tersedia suatu sistem
review dan pelaporan yang terdokumentasi tentang penilaian efektivitas dan
efisiensi pelaksanaan pelatihan.
4.
Pelatihan yang dilakukan
hanyalah bersifat pelatihan klasikal di
kelas pelatihan. Setelah dilakukan konfirmasi kepada manajer SDM,
diperoleh informasi bahwa tidak tersedia cukup dana untuk melanjutkan pelatihan
sampai pada praktik lapangan sebab pada kenyataannya, perusahaan hanya
menganggarkan biaya pelatihan sebesar 0,25% selama satu tahun dari laba bersih
setelah pajak tahun sebelumnya.
Akibat
1.
Ketidaktuntasan program pengelolaan
pelatihan karyawan hingga tahap akhir yang mengarah pada ketidaksempurnaan
keterampilan dan kemahiran karyawan dalam mengoperasikan mesin baru
2.
Banyaknya produk gagal dalam proses
produksi sehingga volume atau output produksi menjadi lebih kecil yang mengarah
pada kenaikan harga pokok produksi tanpa peningkatan kualitas terhadap produk
yang dihasilkan
3.
Tidak ada informasi sebagai umpan
balik dalam peningkatkan kualitas produk yang dihasilkan atas pelatihan
keterampilan karyawan
4.
Menurunnya volume penjualan
akibat besarnya pengembalian produk oleh pelanggan
BAB III
REKOMENDASI
Hasil audit yang dilakukan menemukan
beberapa kelemahan yang harus menjadi perhatian manajemen di masa yang akan
datang. Kelemahan ini dikelompokkan menjadi 2 (dua), yaitu :
1.
Kelemahan yang terjadi karena
program pelatihan karyawan belum mampu meningkatkan keterampilan karyawan di
dalam memproduksi barang
2.
Kelemahan atas kurangnya evaluasi
atas peningkatan hasil program pelatihan karyawan guna kepentingan peningkatan
kualitas produk yang dihasilkan
Atas keseluruhan kelemahan yang
terjadi, maka diberikan rekomendasi sebagai koreksi atau langkah perbaikan yang
dapat diambil oleh manajemen untuk memperbaiki kelemahan tersebut.
Rekomendasi :
1.
Perusahaan harus memberikan
anggaran yang memadai untuk program pelatihan karyawan agar program tersebut
terlaksana hingga tuntas sehingga peningkatan keterampilan karyawan atas
pengoperasian mesin baru sesuai dengan yang diharapkan.
2.
Perusahaan harus menyusun
rencana pelatihan dan pengembangan karyawan secara periodik bersama dengan
penyusunan anggaran perusahaan.
3.
Perusahaan harus membuat
penilaian keberhasilan atas Program Pelatihan Karyawan sebagai evaluasi bagi
Perusahaan itu sendiri.
4.
Rencana pelatihan dan
pengembangan karyawan harus disusun secara periodik bersama dengan penyusunan
anggaran perusahaan.
5.
Laporan biaya kualitas
harus terdokumentasi sebagai umpan balik atas peningkatan kualitas dan produk
yang dihasilkan supaya terjadi penurunan yang signifikan atas kegagalan produk
dan pengembalian produk oleh pelanggan
Keputusan untuk melakukan perbaikan
atas kelemahan ini sepenuhnya ada pada manajemen, tetapi jika kelemahan ini
tidak segera diperbaiki kami mengkhawatirkan terjadi akibat yang lebih buruk
pada Produksi Perusahaan di masa yang akan datang.
BAB IV
RUANG
LINGKUP AUDIT
Sesuai dengan penugasan yang kami
terima, audit yang kami lakukan hanya meliputi masalah Program Pelatihan Karyawan
PT Indojewel untuk periode tahun 2008. Audit kami mencakup penilaian atas
kecukupan sistem pengendalian manajemen Program Pelatihan Karyawan yang telah
dilaksanakan oleh Perusahaan, dan aktivitas yang dilakukan oleh karyawan itu
sendiri di dalam memproduksi barang produksi Perusahaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar