No :
018/KAP/IV/2008
Lampiran :
4 Eksemplar
Perihal :
Laporan Hasil Audit Manajemen
Kepada
Yth. Direktur Utama PT. Indojewel
Di Malang
Kami
telah melakukan audit atas Pelatihan Karyawan pada PT. Indojewel untuk periode
tahun 2007/2008. Audit kami tidak dimaksudkan untuk memberikan pendapat atas kewajaran laporan
keuangan perusahaan dan oleh
karenanya kami tidak
memberikan pendapat atas laporan HRD tersebut. Audit kami hanya mencakup
bidang Pelatihan Karyawan yang dilaksanakan (terjadi pada) PT. Indojewel. Audit
tersebut dimaksudkan untuk menilai ekonomisasi (kehematan), efisiensi (daya guna)
dan efektivitas (hasil guna) Pelatihan Karyawan
yang dilakukan dan memberikan saran atas kelemahan yang ditemukan selama audit,
hingga diharapkan di masa yang akan datang dapat dicapai perbaikan atas
kekurangan tersebut dan perusahaan dapat beroperasi dengan lebih ekonomis,
efeisien dan efektif dalam mencapai tujuannya.
Hasil
audit kami sajikan dalam bentuk laporan audit yang meliputi:
Bab I : Informasi Latar Belakang
Bab II : Kesimpulan Audit yang Didukung dengan
Temuan Audit
Bab III : Rekomendasi
Dalam melaksanakan audit kami telah
memeroleh banyak bantuan, dukungan dankerja sama dari berbagai pihak baik
jajaran direksi maupun staf yang berhubungan dengan pelaksanaan audit ini.
Untuk itu kami mengucapkan terima kasih atas kerja sama yang telah terjalin
dengan baik ini.
KAP
& Management Consultant
Rawiatmaja & Partner
Tn.
Kris Palguna
BAB I
INFORMASI LATAR BELAKANG
PT. Indojewel (selanjutnya disebut
“perusahaan”) bergerak di bidang produksi perhiasan berbahan dasar mutiara dan
emas. Mutiara yang digunakan adalah hasil pembudidayaan sendiri yang
terintegrasi dalam rencana bisnis perusahaan, sedangkan emas diperoleh dari dalam
negeri. Desain produk sudah cukup dikenal di pasar, merupakan hasil
pengembangan bagian litbang perusahaan yang dipimpin oleh tenaga ahli di
bidangnya.
Perusahaan mempekerjakan 1.500 karyawan
tetap dan sekitar 750 karyawan kontrak yang dipekerjakan terutama sebagai staf
produksi di divisi budidaya mutiara dan cleaning service di seluruh divisi
perusahaan, dengan penghasilan rata-rata sebesar 250% dari UMK yang ditetapkan
pemerintah.
Perusahaan menerapkan teknologi maju
dalam produksi perhiasan dengan investasi sebesar Rp1,75 triliun untuk membeli
peranti keras dan Rp500 miliar untuk membeli peranti lunak termasuk sistem
informasi, yang mengintegrasikan seluruh divisi ke dalam satu rangkaian operasi
dan sistem pelaporan.
Pelatihan karyawan bersifat situasional,
sesuai dengan permintaan manajer lini dan sesuai dengan anggaran yang tersedia.
Susunan direksi Perusahaan adalah
sebagai berikut:
Direktur Utama : Tn. Kevin
Suparno
Direktur Akuntansi dan Keuangan : Tn. Cecep Mulyadi
Direktur Pemasaran : Nn. Sandra Gultom
Direktur Produksi : Tn. Steve
Handayana
Manager SDM : Tn. Syam Nugroho
Sedangkan tujuan dilakukannya audit
adalah untuk:
1. Menilai
prosedur Pelatihan Karyawan yang dilakukan Perusahaan.
2. Menilai
ekonomisasi, efisiensi dan efektivitas Pelatihan Karyawan yang telah dilaksanakan.
3. Memberi
berbagai saran atas kelemahan dalam pelaksanaan Pelatihan Karyawan yang ditemukan.
BAB II
KESIMPULAN AUDIT
Berdasarkan temuan (audit) yang kami
peroleh selama audit yang kami lakukan, kami dapat menyimpulkan sebagai
berikut:
Kondisi:
1. Mesin
baru yang digunakan perusahaan telah dilengkapi manual penggunaannya, tetapi
untuk memahami manual tersebut dan mampu menggunakannya sesuai dengan standar
manual tersebut perlu dilakukan pelatihan intensif, dengan mempraktikannya di
lokasi mesin tersebut dioperasikan. Sementara pelatihan yang dilakukan adalah
pelatihan klasikal di kelas untuk memahami petunjuk tersebut. Konfirmasi kepada
manajer SDM diperoleh informasi tidak tersedia cukup dana untuk melanjutkan
pelatihan sampai pada praktik lapangan.
2. Perusahaan
tidak memiliki rencana pelatihan periodic
dan menentukan program pelatihan berdasarkan permintaan manajer lini
yang harus terealisasi dalam waktu singkat tanpa melalui suatu identifikasi
untuk menentukan pelatihan apa yang sesungguhnya dibutuhkan karyawan.
3. Perusahaan hanya menganggarkan biaya pelatihan
sebesar 0,25% selama satu tahun dari laba bersih setelah pajak tahun
sebelumnya. Untuk tahun 2008 biaya pelatihan didasarkan pada laba bersih
setelah pajak tahun 2007 yang mencapai sebear 650.75 miliar.
4. Terjadi
penurunan produk gagal sebesar 18% disbanding sebesar 20% pada tahun lalu
(penurunan produk gagal hanya 2% saja).
5. Tidak
ada penilaian keberhasilan pelatihan secara formal sehingga tidak ada dokumen
atau catatan yang bisa dipertanggungjawabkan atas hasil pelatihan yang telah
dilakukan.
6. Dari
hasil kuesioner yang disebarkan kepada karyawan yang telah mengikuti pelatihan
tahun 2008 diperoleh temuan sebagai berikut:
a. Sebesar
35% dari peserta menjawab bahwa materi pelatihan sesuai dengan kebutuhannya
untuk meningkatkan keterampilan.
- Sebesar 12,5% peserta menjawab metode pelatihansesuai dengan materi pelatihan yang diberikan.
- Hanya sebesar 35% menjawab keteramplannya meningkat setelah mengikuti pelatihan.
- Sebesar 80% peserta menjawab bahwa waktu pelatihan terlalu singkat dan tidak cukup waktu bagi mereka untuk memahami materi yang diberikan dalam pelatihan tersebut.
7. Sebanyak
40% kegagalan produk terjadi dalam proses produksi. 35% pada proses pengepakan,
dan 25% pada proses penggudangan dari keseuruhan biaya kegagalan produk yang
terajdi pada tahun 2008 sebesar Rp 825,25 juta.
8. Pengembalian
produk oleh pelanggan yang terjadi selama tahun 2008 sebesar 7,5% dari total
penjualan Rp 7,5 triiun.
Kriteria:
- Tujuan pelatihan dan pengembangan karyawan harus dirumuskan secara jelas dan disosialisasikan keseluruh manajer lini. Tujuan pelatihan adalah untuk:
a. Meningkatkan
keterampilan karyawan.
b. Menurunkan
kegagalan produk sampai pada tingkat 2,5%.
c. Menurunkan
pemborosan penggunaan sumber daya.
d. Menurunkan
kecelakaan kerja karyawan serta meningkatkan motivasi kerja dan kebanggaan
karyawan terhada pekerjaannya.
- Rencana pelatihan dan pengembangan karyawan harus disusun secara periodic bersama dengan penyusunan anggaran perusahaan.
- Program pelatihan dirumuskan berdasarkan hasil identifikasi terhadap kebutuhan pelatihan sebelum program ditetapkan. Identifikasi meliputi:
a. Penentuan
jenis dan bentuk keterampilanyang dibutuhkan karyawan sehingga mampu
berkontribusi kepada perusahaan.
b. Melakukan
penilaian secara periodic untuk mengidentifikasi topic pelatihan yang tepat.
c. Melakukan
penilaian terhadap pelatihan yang telah dilakukan untuk mendapatkan umpan balik
bagi perbaikan pelatihan berikutnya.
d. Melakukan
benchmarking pada industry yang sama yang lebih berhasil dalam mengelola program
pelatihan dan pengembangan.
- Pengelolaan pelatihan karyawan harus didukung anggaran yang memadai.
- Laporan biaya kualitas harus terdokumentasi untuk menyediakan informasi sebagai umpan balik dalam meningkatkan kualitas proses dan produk yang dihasilkan.
Penyebab:
- Pelatihan yang telah dilakukan adaah elatihan klasikal di kelas untuk memahai petunjuk (manual), padahal untuk memahami manual tersebut dan mampu menggunakan sesuai dengan standar manual peru dilakukan peatihanintensif dengan mempraktikannya di lokasi mesin tersebut dioperasikan.
- Rencana pelatihan baru dibuat setelah ada bagian yang dibutuhkan pelatihan.
- Belum tersedia suatu system review dan pelaopran yang terdokumentasi tentang penilaian efektivitas dan efisiensi pelaksanaan pelatihan.
- Dana SDM tidak mencukupi untuk melanjutkan pelatihan karyawan sampai pada praktik lapangan secara intensif terkait dengan adanya mesin baru.
- Kurang terampilnya karyawan dalam mengoperasikan mesin baru membuat banyak produk yang tidak sesuai dengan keinginan pelanggan dan akhirnya mengembalikan produk.
Akibat:
- Banyak karyawan menjadi kurang terampil ketika mengoperasikan mesin baru perusahaan.
- Tidak ada dokumen/catatan yang bisa dipertanggungjawabkan atas penilaian hasil pelatihan yang telah dilakukan.
- Tidak diketahui berapa biaya yang dikeluarkan untuk peningkatan kualitas proses dan produk yang dihasilkan sehingga tidak ada umpan balik dalam eningkatan kualitas produk.
- Banyak bahan yang terbuang karena rusak dalam proses.
- Banyak tercipta produk yang gagal,
- Pesanan dari gerai-gerai yang merupakan ujung tombak penjualan semakinmenurun.
- Terjadi pemborosan biaya produksi sehingga merugikan perusahaan.
- Banyak produk dikerjakan ulang karena tidak sesuai standar.
Pejabat yang bertanggung jawab:
Direktur Human and Resources
Development
Daftar
Ringkasan Temuan Audit
|
No.
|
Kondisi
|
Kriteria
|
Penyebab
|
Akibat
|
Rekomendasi
|
|
1.
|
Pelatihan bersifat
Situasional
|
Pelatihan seharusnya
dilakukan secara periodik atau terstruktur
|
·
Tidak ada rencana pelatihan
secara periodik
·
Kurangnya dana
·
Pelatihan disusun berdasar
permintaan departemen yang membutuhkan
·
Waktu pelatihan terlalu singkat
|
·
Terjadi 40% kegagalan produksi
·
Pelatihan hanya dilakukan jika
ada permintaan department
·
Karyawan tidak menguasai penggunaan mesin baru
·
Karyawan mengeluh atas kurangnya waktu pelatihan
|
·
Penyusunan jadwal pelatihan
karyawan yang dilakukan setahun sekali atau dua kali
·
Waktu pelatihan dilakukan selama ± 2 minggu
·
Pelatihan karyawan dilaksanakan dengan jadwal
terstruktur
|
|
2.
|
Pelatihan bersifat
Klasikal
|
Perlu adanya praktek
lapangan
|
·
Anggaran tidak digunakan secara
efektif dan efisien
|
· Tidak
maksimalnya produksi yang menyebabkan kegagalan produksi 35%
·
Karyawan kurang menguasai penggunaan mesin baru
|
·
Pengiriman perwakilan karyawan
dalam satu kelompok beranggotakan 5-10 orang untuk mengikuti pelatihan dalam
kelas maupun lapangan.
·
Pemanggilan tim dari pembuatan mesin baru
melakukan pelatihan lapangan di perusahaan.
·
Pemilihan karyawan yang dilatihan dilakukan secara
acak dan independen.
·
Tim memilih trainer yang sekaliggus memberikan
sesi training motivation pada sesi tertentu.
·
Tim trainer memberikan sesi outbond unutk
meningkatkan kerjasama antar karyawan
|
|
3.
|
Penurunan produk
gagal menjadi 18%
|
Menurunkan tingkat
kegagalan sampai 2.5%
|
·
Kurang terampilnya karyawan dalam
mengoperasikan mesin baru
·
Pelatihan gagal meningkakan
keterampilan karyawan
|
·
Retur produk tetap tinggi yaitu
7.5%
·
Banyak produk dikerjakan ulang karena tidak sesuai
standar.
|
|
|
4.
|
Tidak ada dokumen
penilaian atas hasil pelatihan
|
Laporan biaya
kualitas harus terdokumentasi
|
·
Tidak ada aturan yang menetapkan
perlunya laporan hasil pelatihan karyawan
·
Manajemen tidak meminta laporan
|
Tidak diketahui
apakah pelatihan dilakukan secara maksimal atau tidak
|
·
Tim panitia pelatihan karyawan
membuat laporan hasil pelatihan
·
Manajemen meminta dokumentasi atas pelatihan
karyawan pada tim trainer
·
Manajemen membuat aturan tim panitia trainer
maupun tim trainer untuk memberikan laporan hasil pelatihan serta laporan
perkembangan sebelum dan sesudah pelatihan yang dilakukan karyawan
|
BAB III
REKOMENDASI
Hasil audit yag dilakukan menemukan
beberapa kelemahan yang harus menjadi perhatian manajemen di masa yang akan
datang. Kelemahan utama adalah:
1. Kelemahan
yang terjadi pada prosedur pelatihan karyawan yang belum terencana dengan baik
serta kurang terlatihnya karyawan dalam menggunakan mesin baru.
2.
Kelemahan yang
terjadi pada proses
pendokumentasian laporan atas
hasil pelatihan karyawan.
Atas keseluruhan
kelemahan yang terjadi, maka diberikan rekomendasi sebagai koreksi atau langkah
perbaikan yang bisa diambil manajemen untuk memperbaiki kelemahan tersebut.
Rekomendasi:
1. Perusahaan
harus membuat program pelatihan karyawan yang dilakukan secara periodik dan
meningkatkan anggaran untuk mendukung pengelolaan pelatihan karyawan.
2. Menurunkan
gaji karyawan yang mencapai 250%.
3. Perusahaan
harus melakukan penilaian terhadap pelatihan karyawan untuk perbaikan dan melakukan benchmarking pada
industri sejenis yang
lebih berhasil dalam
mengelola program pelatihan karyawan.
4. Perusahaan harus
mendokumentasikan laporan biaya
kualitas untuk menyediakan informasi sebagai umpan balik
dalam meningkatkan kualitas proses dan produk yang dihasilkan.
5. Pelatihan
intensif dan terjadwal mesti dilakukan oleh karyawan, supaya mengefisiensikan
penggunaan sumber daya dalam proses produksi yang gagal.
6. Memproduksi
terlebih dahulu sampai karyawan menguasai mesinbaru agar tidak terjadi
pemborosan sumber daya.
Keputusan
untuk melakukan perbaikan atas kelemahan ini sepenuhnya ada pada manajemen, tetapi
jika kelemahan ini tidak segera diperbaiki kami mengkhawatirkan terjadi akibat
yang lebih buruk pada Pelatihan Karyawan di masa yang akan datang.
BAB
IV
RUANG
LINGKUP AUDIT
Sesuai dengan
penugasan yang kami terima, audit yang kami lakukan hanya meliputi masalah
Program Pelatihan Karyawan PT. Indojewel untuk periode tahun 2007/2008. Audit
kami mencakup penilaian atas kecukupan sistem pengendalian manajemen Program
Pelatihan Karyawan, personalia yang bertugas dalam program pelatihan karyawan,
dan aktivitas Program Pelatihan Karyawan itu sendiri.
Kelompok
8
Anggota:
Desi Meiliani 13.06.1.0004
Alvin Gustiavin 13.06.1.0028
Tria Rahmanisa 13.06.1.0020
Tidak ada komentar:
Posting Komentar