TUGAS AUDIT
MANAJEMEN
Kelompok 2
Nama : Mely Chaerul Amaliyah 13.06.1.0009
Ayu Sri
Rahayu 13.06.1.0033
Kelas : Akuntansi A
1.
Daftar Ringkas Temuan Audit
|
||||
No.
|
Kondisi
|
Kriteria
|
Penyebab
|
Akibat
|
1
|
Tidak cukup tersedianya sumber daya bahan baku
di dalam negeri terutama untuk produk yang berbahan dasar sutra yang harus
import sehingga hanya mampu mencapai 90% dari kebutuhan pelanggan
|
Jadwal produksi telah mencerminkan kestabilan
usaha perusahaan dalam memenuhi kebutuhan pelanggan
|
Perusahaan sering tidak tepat dalam
merencanakan kebutuhan bahan baku perusahaan (terutama untuk produk yang
berbahan dasar sutra yang masih impor)
|
Kedatangan bahan baku sering terlambat
sehingga proses produksi tidak mampu memenuhi semua pesanan pelanggan
|
2
|
Perusahaan beberapa kali mengalami
keterlambatan pemenuhan pesanan dan juga perusahaan tidak mampu menempatkan
barangnya di pasar tepat waktu dalam kuantitas sesuai dengan kebutuhan
|
Jadwal produksi disusun berdasarkan rencana
penjualan dan pembentukan stok pengaman dalam menjaga kestabilan barang di
pasaran
|
Perusahaan menetapkan kebijakan pengiriman
yang terlalu cepat tanpa memikirkan kondisi persediaan bahan baku yang
tersedia untuk proses produksi
|
Perusahaan tidak memiliki persediaan yang
cukup sebagai stok pengamanan dalam menjaga kestabilan barang di pasaran
|
3
|
Pemenuhan pesanan yang selalu terlambat
|
Jadwal produksi mampu meminimumkan biaya
persediaan, biaya set up, upah lembur, dan waktu sumber daya
menganggur
|
Jadwal penerimaan bahan baku dan perbaikan
fasilitas produksi tidak disesuaikan dengan terjadinya perubahan pesanan dari
pelanggan
|
Terhambatnya proses produksi rata-rata 18 jam
dalam 1 minggu yang tentunya akan mengakibatkan bertambahnya biaya upah
lembur, waktu sumber daya tenaga kerja yang terbuang untuk melakukan proses produksi,
serta bertambahnya biaya set up mesin untuk bagian pemeliharaan
fasilitas produksi
|
4
|
Pada tahun 2006, proses produksi hanya mampu
mencapai kuantitas 90% dari produk yang dibutuhkan untuk memenuhi pesanan
pelanggan sesuai dengan jadwal pengiriman yang telah ditetapkan
|
Jadwal produksi telah mengintegrasikan jadwal
penerimaan bahan baku, pemeliharaan fasilitas dan pengiriman barang ke dalam
jadwal produksi
|
Perencanaan kebutuhan bahan baku perusahaan
(terutama untuk produk yang berbahan dasar sutra yang masih impor) sering
tidak tepat
|
Keterlambatan kedatangan bahan baku
mengakibatkan kekurangan bahan baku sebanyak 15% (2006) dari kebutuhan
produksi.
|
5
|
Jadwal produksi tidak disesuaikan dengan
terjadinya pemesanan dari pelanggan yang sifatnya mendadak, sehingga belum
termasuk dalam jadwal produksi yang telah ditetapkan, yang menyebabkan
tertundanya pengiriman barang yang terjadwal rata-rata 2 hari untuk setiap
pesanan
|
Perusahaan memiliki kebijakan tertulis tentang
perubahan jadwal produksi karena adanya penambahan (perubahan) pesanan
pelanggan
|
Perusahaan tidak (belum) memiliki kebijakan
tertulis sebagai dasar untuk melakukan perubahan jadwal produksi, jika
terjadi tambahan (perubahan) permintaan pelanggan
|
Rencana produksi dan pengiriman yang telah
terjadwal menjadi terganggu
|
6
|
Tidak adanya mekanisme penyesuaian (cross
check) program antara bagian produksi, pembelian bahan baku dan
pemeliharaan fasilitas produksi
|
Jadwal produksi telah selaras dengan jadwal
pada fungsi-fungsi lainnya
|
Jadwal produksi tidak selaras dengan jadwal
pada bagian pembelian bahan baku dan pemeliharaan fasilitas produksi
|
Keterlambatan proses produksi
|
7
|
Di dalam gudang menumpuk beberapa jenis barang
yang menunggu untuk dikirim kepada pelanggan
|
Jadwal produksi harus mampu mengoptimalkan
tingkat penggunaan kapasitas produksi
|
Supervisor memerintahkan untuk memproduksi
terlebih dahulu produk yang bahan bakunya tersedia di lokasi pabrik karena
proses produksi harus berjalan terus
|
Terjadi penumpukan persediaan di dalam gudang
|
8
|
Kekurangan bahan baku sehingga proses produksi
hanya mampu mencapai kuantitas sebesar 90% untuk memenuhi proses produksi
|
Jadwal produksi didukung dengan metode
permintaan material yang akurat
|
Metode permintaan bahan baku perusahaan
(terutama yang berbahan sutra yang masih impor) sering tidak tepat
|
Kedatangan bahan baku sering terlambat
|
9
|
Semua bahan baku yang tersedia di lokasi
pabrik diproses meskipun belum waktunya untuk diproses
|
Seluruh kapasitas yang dimiliki terserap dalam
rencana produksi yang telah ditetapkan
|
Perusahaan beroperasi sebesar 85% dari
kapasitas penuh
|
Adanya kapasitas yang menganggur yang terjadi
sebesar +15%
|
10
|
Terjadi penumpukan persediaan di dalam gudang
sampai 15% untuk produk non sutra
|
Perusahaan memiliki kebijakan tertulis tentang
pemanfaatan kapasitas menganggur (jika jadwal produksi tidak disusun pada
basis full capacity)
|
Perusahaan memiliki kebijakan tertulis tentang
pemanfaatan kapasitas menganggur yaitu dengan mengolah semua sisa bahan yang
tersedia di lokasi pabrik meskipun belum waktunya untuk diproses
|
Terjadi penumpukan persediaan
|
11
|
Supervisor memerintahkan untuk memproduksi
terlebih dahulu produk yang bahan bakunya tersedia di lokasi pabrik
|
Jadwal produksi telah meminimalkan persediaan
|
Proses produksi harus berjalan terus
|
Terjadi penumpukan persediaan di gudang
|
12
|
Pada tahun 2006, terjadi keterlambatan
pemenuhan pesanan dan perusahaan tidak mampu menempatkan barangnya di pasar
tepat waktu dalam kuantitas sesuai dengan kebutuhan
|
Penentuan tingkat persediaan minimum telah
mempertimbangkan kemungkinan terjadinya: keterlambatan pasokan bahan baku,
pemeliharaan fasilitas produksi, perubahan permintaan pasar
|
Perusahaan menetapkan kebijakan persediaan
yang sangat minimum untuk menjaga kestabilitasan keuangannya tanpa
mempertimbangkan terjadinya: keterlambatan pasokan bahan baku, pemeliharaan
fasilitas produksi, perubahan permintaan pasar
|
Tertundanya pengiriman barang yang terjadwal
rata-rata 2 hari untuk setiap pesanan karena faktor ketidak sesuaian antara
jadwal produksi dengan perubahan permintaan pasar dan kekurangmampuan
perusahaan dalam mencapai kuantitas produksi dalam memenuhi pesanan pelanggan
karena faktor keterlambatan pasokan bahan baku
|
13
|
Jadwal pemeliharaan mesin tdak selalu tepat
dengan penggunaannya, sehingga pada saat beberapa komponen mesin dibutuhkan
sering belum siap karena masih diperbaiki
|
Jadwal pemeliharaan fasilitas produksi telah
terintegrasi dengan rencana produksi
|
Jadwal pemeliharaan mesin tidak selalu tepat
dengan jadwal penggunaannya
|
Terjadinya waktu tunggu rata-rata 1 jam
dalam setiap hari
|
2.
Kesimpulan
Audit
Berdasarkan temuan (bukti) yang saya
peroleh selama audit yang saya lakukan, saya dapat menyimpulkan sebagai berikut :
Kondisi:
1). Prosedur
perencanaan bahan baku yang sering tidak tepat menyebabkan kedatangan bahan
baku sering terlambat mengandung beberapa kelemahan, di antaranya:
a. Tidak
terdapat prosedur yang dapat menjamin bahwa setiap perencanaan bahan baku akan
dapat terpenuhi secara tepat waktu, khususnya bahan dasar sutra impor, yang
akhirnya akan menyebabkan kedatangan bahan baku itu sering terlambat
b. Tidak
terdapat prosedur yang memadai untuk memastikan bahwa setiap perencanaan bahan
baku akan dapat memenuhi kuantitas yang dibutuhkan dalam setiap proses produksi
sehingga tidak terjadi kekurangan bahan baku dalam produksinya
2). Keterlambatan
pemenuhan pesanan dan juga ketidakmampuan perusahaan untuk menempatkan
barangnya di pasar tepat waktu dalam kuantitas yang sesuai dengan kebutuhan
3). Ketidak
selarasan jadwal produksi dengan jadwal bagian pembelian bahan baku dan
pemeliharaan fasilitas produksi yang dikarenakan tidak adanya mekanisme
penyesuaian (cross check) program
antara bagian-bagian tersebut.
4). Penumpukan
beberapa jenis barang, terutama barang non sutra, di gudang yang menunggu untuk
dikirim kepada pelanggan karena perintah supervisor untuk memproduksi terlebih
dahulu semua bahan yang tersedia di lokasi pabrik meskipun belum waktunya untuk
diproses.
5). Kebijakan
persediaan perusahaan yang sangat minimum untuk menjaga kestabilan keuangannya
tanpa mempertimbangkan terjadinya: keterlambatan pasokan bahan baku,
pemeliharaan fasilitas produksi, perubahan permintaan pasar.
6). Jadwal
pemeliharaan mesin yang tidak selalu tepat sehingga menyebabkan terjadinya
waktu tunggu rata-rata 1 jam setiap harinya.
7). Kebijakan
perusahaan dalam hal pengiriman barang yang terlalu cepat.
Kriteria:
1). Jadwal
produksi harus mencerminkan kestabilan usaha perusahaan dalam memenuhi
kebutuhan pelanggan.
2). Jadwal
produksi harus disusun berdasarkan rencana penjualan dan pembentukan stok
pengaman dalam menjaga kestabilan barang di pasaran.
3). Agar
tingkat penggunaan kapasitas produksi optimal maka jadwal produksi harus
terintegrasikan dengan jadwal penerimaan bahan baku, pemeliharaan fasilitas dan
pengiriman barang ke dalam jadwal produksi sehingga mampu meminimumkan biaya
persediaan, biaya set up, upah lembur
dan waktu sumber daya yang menganggur.
4).
Perusahaan harus memiliki kebijakan tertulis tentang perubahan
jadwal produksi karena adanya penambahan (perubahan) pesanan pelanggan.
5). Jadwal
produksi harus selaras dengan jadwal fungsi-fungsi lainnya.
6). Metode
permintaan material harus akurat sehingga kekurangan bahan baku tidak terjadi
lagi.
7).
Penentuan tingkat persediaan minimum
harus telah mempertimbangkan kemungkinan terjadinya: keterlambatan pasokan
bahan baku, pemeliharaan fasilitas produksi, perubahan permintaan pasar.
8).
Kebijakan pengiriman produk yang terlalu
cepat menyebabkan perusahaan mengalami kesulitan dalam memenuhi kewajibannya.
Oleh karena itu, perusahaan sewajarnya membuat suatu kontrak perjanjian tertulis
yang harus mempertimbangkan kemampuan
perusahaan dalam menyanggupi kewajibannya dalam hal pengiriman barang dengan
tidak mengabaikan tujuan utama produksi perusahaan yaitu, waktu pengiriman yang
tepat.
Penyebab :
1). Belum
adanya peraturan baku secara tertulis yang dimiliki perusahaan, dalam prosedur
dan sistem perencanaan kebutuhan bahan baku dan permintaan material yang akurat
digunakan saat ini.
2). Belum
tersedianya kebijakan dan atau peraturan memadai berkaitan dengan penentuan
batas minimum jumlah persediaan untuk satu periode proses produksi dan
perubahan jadwal produksi karena adanya penambahan pesanan pelanggan.
3). Tidak
adanya mekanisme penyesuaian (cross check)
program antara bagian produksi, pembelian bahan baku, dan pemeliharaan
fasilitas produksi padahal Operator mesin dan bagian pemeliharaan fasilitas
produksi dikendalikan oleh kepala bagian yang berbeda untuk mencegah terjadinya
keterlambatan produksi.
4). Kebijakan
pengiriman produk yang terlalu cepat tanpa mempertimbangkan kondisi persediaan
bahan baku yang tersedia.
Akibat :
1). Perusahaan
tidak mampu memenuhi semua pesanan pelanggan dengan tepat waktu.
2). Jadwal
pengiriman barang yang terjadwal rata-rata 2 hari untuk setiap pesanan karena
faktor ketidak sesuaian antara jadwal produksi dengan perubahan permintaan
pasar.
3). Proses
produksi mengalami waktu tunggu rata-rata 1 jam dalam setiap hari sehingga
perusahaan mengalami keterlambatan proses produksi.
4). Kebijakan
perusahaan untuk mengolah semua bahan baku yang tersedia di lokasi pabrik
mengakibatkan penumpukan persediaan di gudang.
5). Masih
ada kapasitas yang menganggur dalam perusahaan.
6). Perusahaan
tidak memiliki persediaan yang cukup sebagai stok pengamanan dalam menjaga
kestabilan barang di pasaran
Pejabat
yang bertanggung jawab :
Direktur Perencanaan dan Pelaksanaan Produksi
3.
Rekomendasi
Hasil audit yang telah
dilakukan menemukan beberapa kelemahan yang harus menjadi perhatian manajemen
di masa yang akan datang. Kelemahan ini dapat dikelompokkan menjadi tiga hal,
yaitu:
1. Kelemahan
yang terjadi pada sistem dan prosedur dalam pemesanan dan pengadaan bahan baku
terutama yang berbahan baku sutra yang dimiliki perusahaan.
2. Kelemahan
yang terjadi karena kurangnya koordinasi yang positif antara bagian produksi,
pembelian bahan baku, dan pemeliharaan fasilitas produksi.
3. Kelemahan
yang terjadi karena kebijakan pengiriman produk yang terlalu cepat.
Atas
keseluruhan kelemahan yang terjadi, maka diberikan rekomendasi sebagai koreksi
atau langkah perbaikan yang bisa diambil manajemen untuk memperbaiki kelemahan
tersebut.
Rekomendasi :
1.
Perusahaan harus memiliki sistem dan
prosedur dalam pemesanan dan pengadaan bahan baku terutama yang berbahan baku
sutra yang dimiliki perusahaan agar proses produksi berjalan stabil serta dapat
memberikan informasi tentang persediaan dan jumlah bahan baku yang dibutuhkan
dengan akurat sesuai keadaan yang ada dalam perusahaan sehingga proses produksi
dapat berjalan stabil dalam menjalankan usahanya memenuhi pesanan pelanggan dan
memiliki stock pengaman yang cukup di pasaran.
2.
Bagian produksi, pembelian bahan baku,
dan pemeliharaan fasilitas produksi harus selalu mengadakan rapat evaluasi
kerja untuk mencegah terjadinya keterlambatan proses produksi.
3.
Perusahaan harus melakukan pelatihan dan
pembinaan bagi karyawan bagian pembelian bahan baku yang melakukan perencanaan
kebutuhan bahan baku sehingga dapat mengurangi resiko ketidak tepatan dalam
melakukan perencanaan kebutuhan bahan baku yang dapat menghambat proses
produksi karena kekurangan bahan baku terutama bahan baku yang berbahan dasar
sutra.
4.
Perusahaan harus membuat kebijakan dan
peraturan tertulis yang cukup untuk menjadi dasar-dasar tentang perubahan
jadwal produksi karena adanya tambahan (perubahan) pesanan pelanggan, agar
tidak mengganggu rencana produksi dan pengiriman yang telah terjadwal.
5.
Perusahaan harus membuat jadwal produksi
yang terintegrasi dengan:
a. Jadwal
penerimaan bahan baku ;
bahan baku sudah tersedia dan siap dilokasi pabrik 6 jam sebelum proses
produksi dimulai.
b. Pemeliharaan
fasilitas produksi; mesin selalu dalam keadaan siap untuk dioprasikan.
c. Pengiriman
barang; barang jadi dikirim paling lambat 7 hari kerja sejak pesanan diterima.
Keputusan untuk
melakukan perbaikan atas kelemahan ini spepenuhnya ada pada pihak manajemen,
tetapi jika kelemahan ini tidak segera diperbaiki kami mengkhawatirkan terjadi
akibat yang lebih buruk pada Pengelolaan Proses Produksi di masa yang akan
datang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar