AKUNTANSI A -
Kelompok 5
Adityo Akbar
Ramadhan 13.06.1.0001
Nela Nurlela 13.06.1.0011
Widya Pratiwi 13.06.1.0022
Jawaban
Studi Kasus No. 1 PT. INDOJEWEL
No.
|
Kondisi
|
Kriteria
|
Penyebab
|
Akibat
|
1.
|
Tidak tersedia cukup dana untuk
melakukan program pelatihan karyawan. Perusahaan hanya menganggarkan biaya
pelatihan sebesar 0,25% selama satu tahun dari laba bersih setelah pajak
tahun sebelumnya
|
Pengelolaan program pelatihan
karyawan harus didukung dengan anggaran yang memadai
|
Program pelatihan yang dilakukan
disesuaikan dengan besarnya anggaran yang disetujui oleh Direktur Akuntansi
dan Keuangan tanpa melihat apa yang dibutuhkan dalam pelatihan
|
Pelatihan yang dilakukan hanya
berupa pelatihan klasikal dikelas sehingga tidak cukup waktu bagi karyawan
untuk memahami materi yang diberikan dalam pelatihan tersebut
|
2.
|
Perusahaan tidak memiliki rencana
pelatihan periodik dan menentukan program pelatihan
|
Rencana pelatihan harus disusun
secara periodik dengan menentukan pelatihan yang dibutuhkan karyawan
|
Rencana pelatihan baru dibuat
setelah ada bagian yang membutuhkan pelatihan
|
Ketidaktuntasan
program pengelolaan pelatihan karyawan hingga tahap akhir yang mengarah pada
ketidaksempurnaan keterampilan dan kemahiran karyawan dalam mengoperasikan
mesin baru
|
3.
|
Terjadi kegagalan produk pada
tahun 2008 sebesar Rp. 825,25 juta
|
Tujuan pelatihan dan pengembangan
karyawan harus dirumuskan dengan jelas dan disosialisasikan ke seluruh
manajer lini untuk menurunkan kegagalan produk
|
perusahaan tidak memiliki rencana
pelatihan periodik dan menentukan program pelatihan berdasarkan apa yang sesungguhnya
dibutuhkan oleh para karyawan
|
Banyaknya produk gagal dalam
proses produksi sehingga volume atau output produksi menjadi lebih kecil yang
mengarah pada kenaikan harga pokok produksi tanpa peningkatan kualitas
terhadap produk yang dihasilkan
|
4.
|
Pertanggungjawaban
atas program pelatihan karyawan tidak dapat dilakukan
|
Laporan biaya
dan kualitas pelatihan harus terdokumentasi untuk menyediakan informasi
sebagai umpan balik dalam meningkatkan kualitas proses dan produk yang
dihasilkan
|
Tidak ada penilaian keberhasilan
secara formal tentang penilaian efektivitas dan efisiensi pelaksanaan
pelatihan
|
Tidak ada dokumen atau catatan
yang bisa dipertanggungjawabkan atas penilaian hasil pelatihan yang telah
dilakukan sehingga tidak ada informasi mengenai peningkatan kualitas produk
yang dihasilkan.
|
5.
|
Pengembalian
produk oleh pelanggan yang terjadi selama tahun 2008 sebesar 7,5%
|
Tujuan pelatihan dan pengembangan
karyawan harus dirumuskan dengan jelas dan disosialisasikan ke seluruh
manajer lini untuk menurunkan kegagalan produk
|
Perusahaan tidak memiliki rencana
pelatihan periodik dan menentukan program pelatihan berdasarkan permintaan
manajer lini yang harus terealisasi dalam waktu singkat tanpa melalui
identifikasi untuk menentukan identifikasi untuk menentukan pelatihan apa
yang sesungguhnya dibutuhkan oleh para karyawan
|
Menurunnya
volume penjualan akibat besarnya pengembalian produk oleh pelanggan
|
Jawaban
Studi Kasus No. 2 PT. INDOJEWEL
BAB
I
INFORMASI LATAR
BELAKANG
PT. Indojewel bergerak di bidang
produksi perhiasan berbahan dasar mutiara dan emas. Mutiara yang digunakan
adalah hasil pembudidayaan sendiri yang terintegrasi dalam rencana bisnis
perusahaan, sedangkan emas diperoleh dari dalam negeri. Desain produk sudah
cukup dikenal di pasar, merupakan hasil pengembangan bagian litbang perusahaan
yang dipimpin oleh tenaga ahli di bidangnya.
Perusahaan mempekerjakan 1.500
karyawan tetap dan sekitar 750 karyawan kontrak yang dipekerjakan terutama
sebagai staf produksi di divisi budidaya mutiara dan cleaning service di
seluruh divisi perusahaan, dengan penghasilan rata-rata sebesar 250% dari UMK
yang ditetapkan pemerintah.
Perusahaan menerapkan teknologi maju
dalam produksi perhiasan dengan investasi sebesar Rp1,75 triliun untuk membeli
peranti keras dan Rp500 miliar untuk membeli peranti
lunak termasuk sistem informasi, yang mengintegrasikan
seluruh divisi ke dalam satu rangkaian operasi dan sistem pelaporan.
Pelatihan karyawan bersifat
situasional, sesuai dengan permintaan manajer lini dan sesuai dengan anggaran
yang tersedia.
Susunan direksi Perusahaan adalah sebagai berikut:
- Direktur
Utama :
Tn. Kevin Suparno
- Direktur
Akuntansi dan Keuangan : Tn. Cecep
Mulyadi
- Direktur
Pemasaran : Nn.
Sandra Gultom
- Direktur
Produksi : Tn.
Steve Handayana
- Manager SDM : Tn. Syam
Nugroho
Sedangkan tujuan dilakukannya audit adalah untuk:
1.
Menilai prosedur Pelatihan Karyawan
yang dilakukan Perusahaan
2. Menilai
ekonomisasi, efisiensi dan efektivitas Pelatihan Karyawan yang telah dilaksanakan.
3.
Memberi berbagai saran atas
kelemahan dalam pelaksanaan Pelatihan Karyawan yang ditemukan
BAB II
KESIMPULAN
AUDIT
Berdasarkan temuan (bukti) yang kami
peroleh selama audit yang kami lakukan, kami dapat menyimpulkan sebagai
berikut:
Kondisi:
1.
Tidak tersedia cukup dana untuk melakukan program pelatihan
karyawan. Perusahaan hanya menganggarkan biaya pelatihan sebesar 0,25% selama
satu tahun dari laba bersih setelah pajak tahun sebelumnya
2.
Perusahaan tidak memiliki rencana pelatihan periodik dan
menentukan program pelatihan
3.
Terjadi kegagalan produk pada tahun 2008 sebesar Rp. 825,25
juta
4.
Pertanggungjawaban atas program pelatihan karyawan tidak
dapat dilakukan
5.
Pengembalian produk oleh pelanggan yang terjadi selama tahun
2008 sebesar 7,5%
Kriteria:
1.
Pengelolaan program pelatihan karyawan harus didukung dengan
anggaran yang memadai
2.
Rencana pelatihan harus disusun secara periodik dengan
menentukan pelatihan yang dibutuhkan karyawan
3.
Tujuan pelatihan dan pengembangan karyawan harus dirumuskan
dengan jelas dan disosialisasikan ke seluruh manajer lini untuk menurunkan
kegagalan produk
4.
Laporan biaya dan kualitas pelatihan harus terdokumentasi
untuk menyediakan informasi sebagai umpan balik dalam meningkatkan kualitas
proses dan produk yang dihasilkan
5.
Tujuan pelatihan dan pengembangan karyawan harus dirumuskan
dengan jelas dan disosialisasikan ke seluruh manajer lini untuk menurunkan
kegagalan produk
Penyebab:
1.
Program pelatihan yang dilakukan disesuaikan dengan besarnya
anggaran yang disetujui oleh Direktur Akuntansi dan Keuangan tanpa melihat apa
yang dibutuhkan dalam pelatihan
2.
Rencana pelatihan baru dibuat setelah ada bagian yang
membutuhkan pelatihan
3.
perusahaan tidak memiliki rencana pelatihan periodik dan
menentukan program pelatihan berdasarkan apa yang sesungguhnya dibutuhkan oleh
para karyawan
4.
Tidak ada penilaian keberhasilan secara formal tentang
penilaian efektivitas dan efisiensi pelaksanaan pelatihan
5.
Perusahaan tidak memiliki rencana pelatihan periodik dan
menentukan program pelatihan berdasarkan permintaan manajer lini yang harus
terealisasi dalam waktu singkat tanpa melalui identifikasi untuk menentukan
identifikasi untuk menentukan pelatihan apa yang sesungguhnya dibutuhkan oleh
para karyawan
Akibat:
1. Pelatihan yang dilakukan hanya
berupa pelatihan klasikal dikelas sehingga tidak cukup waktu bagi karyawan
untuk memahami materi yang diberikan dalam pelatihan tersebut
2. Ketidaktuntasan program pengelolaan
pelatihan karyawan hingga tahap akhir yang mengarah pada ketidaksempurnaan keterampilan
dan kemahiran karyawan dalam mengoperasikan mesin baru
3. Banyaknya produk gagal dalam proses
produksi sehingga volume atau output produksi menjadi lebih kecil yang mengarah
pada kenaikan harga pokok produksi tanpa peningkatan kualitas terhadap produk
yang dihasilkan
4. Tidak ada dokumen atau catatan yang
bisa dipertanggungjawabkan atas penilaian hasil pelatihan yang telah dilakukan
sehingga tidak ada informasi mengenai peningkatan kualitas produk yang
dihasilkan.
5. Menurunnya volume penjualan akibat besarnya
pengembalian produk oleh pelanggan.
BAB III
REKOMENDASI
Hasil audit yag dilakukan menemukan
beberapa kelemahan yang harus menjadi perhatian manajemen di masa yang akan
datang. Kelemahan utama adalah:
1.
Kelemahan yang terjadi pada prosedur
pelatihan karyawan yang belum terencana dengan baik serta kurang terlatihnya
karyawan dalam menggunakan mesin baru.
2.
Kelemahan yang terjadi pada proses
pendokumentasian laporan atas hasil pelatihan karyawan.
Atas keseluruhan kelemahan yang
terjadi, maka diberikan rekomendasi sebagai koreksi atau langkah perbaikan yang
bisa diambil manajemen untuk memperbaiki kelemahan tersebut.
Rekomendasi:
1.
Perusahaan harus membuat program
pelatihan karyawan yang dilakukan secara periodik dan meningkatkan anggaran
untuk mendukung pengelolaan pelatihan karyawan
2.
Perusahaan harus melakukan penilaian
terhadap pelatihan karyawan untuk perbaikan dan melakukan benchmarking pada
industri sejenis yang lebih berhasil dalam mengelola program pelatihan karyawan
3.
Perusahaan harus mendokumentasikan
laporan biaya kualitas untuk menyediakan informasi sebagai umpan balik dalam
meningkatkan kualitas proses dan produk yang dihasilkan.
4.
Pelatihan intensif dan terjadwal
mesti dilakukan oleh karyawan, supaya mengefisienkan penggunaan sumber daya
dalam proses produksi yang gagal.
5.
Memproduksi sedikit terlebih dahulu
sampai karyawan menguasai mesin baru agar tidak terjadi pemborosan sumber daya.
Keputusan untuk melakukan perbaikan
atas kelemahan ini sepenuhnya ada pada manajemen, tetapi jika kelemahan ini
tidak segera diperbaiki kami mengkhawatirkan terjadi akibat yang lebih buruk
pada Pelatihan Karyawan di masa yang akan datang.
BAB IV
RUANG
LINGKUP AUDIT
Sesuai dengan penugasan yang kami
terima, audit yang kami lakukan hanya meliputi masalah Program Pelatihan
Karyawan PT. Indojewel. Audit kami mencakup penilaian atas kecukupan sistem
pengendalian manajemen Program Pelatihan Karyawan, personalia yang bertugas
dalam program pelatihan karyawan, dan aktivitas Program Pelatihan Karyawan itu
sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar